SEDEKAH BUMI


UPACARA SEDEKAH BUMI DI DUSUN KEDUNGWATU DESA KEDUNGASEM KECAMATAN SUMBER KABUPATEN  REMBANG


PENDAHULUAN

Setelah panen raya kedua/panen walik dami
 baru dilaksanakan pembahasan dan pelaksanaan Sedekah Bumi
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang senantiasa dipelihara dan dikembangkan sejak nenek moyang hingga sekarang. Tradisi sengaja diciptakan dan dipelihara terus dalam rangka memelihara keselarasan, ketentraman dan mempertahankan hidup. Tradisi merupakan bagian dari kebudayaan yang diciptakan manusia dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan identitas atau jati diri suatu kelompok masyarakat. Tradisi selalu dipertahankan agar tercipta harmoni atau keselarasan dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Masyarakat pra-sejarah atau dikenal juga dengan masyarakat belum mengenal tulisan, dalam mewariskan nilai kepada generasi penerusnya melalui lisan. Tradisi masyarakat yang disampaikan kepada generasi penerusnya melalui lisan dan tanpa dibukukan disebut foklore. Ada tiga jenis foklore yakni foklore lisan, setengah lisan dan non-lisan. Mitos, legenda,  dongeng, fabel, upacara tradisi; upacara sedekah laut, upacara sedekah gunung, upacara sedekah bumi termasuk jenis foklore setengah lisan. Foklore setengah lisan termasuk kategore cerita rakyat. Cerita rakyat ini disampaikan terus secara turun temurun kepada generasi penerusnya. Tujuan pewarisan tradisi lisan ini adalah agar generasi penerusnya mimiliki sikap menghargai dan menghormati nenek moyang dengan meneruskan dan mengembangkan tradisi ini sesuai dengan konteks zamannya.
Di wilayah Kabupaten Rembang, sampai saat ini terdapat beberapa foklore yang masih dipelihara dan dipertahankan oleh rakyat. Di Dusun Kedungwatu Desa Kedungasem Kecamatan Sumber ada legenda tentang“SumurSura,SawahGamelan,Bomati,Jasuro,Ploso,Gerit,Jemporan,pandanan,bogoran,sepat,Meniran,glandang,maling mati “.  dan ada upacara Sedekah Bumi “.
Sedekah Bumi bagi masyarakat Rembang, adalah suatu tradisi tahunan yang selalu diselenggarakan, khususnya bagi warga Dusun Kedungwatu Desa Kedungasem Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang. Upacara sedekah bumi bagi warga Dusun Kedungwatu disebut juga dengan upacara Kabumi atau khormat bumi. Kedua istilah ini tidak memiliki subtansi perbedaan, yang ada adalah hanya istilah penyebutan. Tradisi upacara sedekah bumi atau Kabumi memiliki subtansi yang sama yaitu suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dengan memberi sedekah makanan atau hasil pertanian, memanjatkan doa kepada Tuhan atas keberkahan yang telah dilimpahkan kepada seluruh penduduk desa. 
Ada kepercayaan bahwa apabila upacara Kabumi tidak dilaksanakan maka akan datang bencana bagi rakyat. Dari tahun ke tahun upacara Kabumi mengalami perubahan dan perkembangan baik waktu penyelenggaraan, prosesi, keikutsertaan warga, pemimpin upacara, alat upacara maupun hiburan. Perubahan yang paling fundamental adalah bahwa tradisi sedekah bumi yang sarat dengan ritual kepercayaan pra sejarah, sekarang sudah disesuaikan dengan ajaran agama Islam, sehingga acara pengajian umum termasuk rangkaian khormat bumi. Kethoprak merupakan inti dari penyelenggaraan Kabumi. sedangkan ketoprak merupakan kesenian rakyat yang dihadirkan dalam upacara peringatan sedekah bumi sebagai hiburan rakyat. Ketoprak,Tayun dan Wayang Kulit merupakan kesenian yang dapat dijumpai dalam penyelenggaraan upacara sedekah bumi di wilayah kabupaten Rembang.
Upacara sedekah bumi merupakan salah satu bentuk foklore lisan yang sekarang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Rembang. Penyelenggaraan upacara sedekah bumi mendapat apresiasi dari warga masyarakat, sehingga masyarakat akan antusias dan aktif terlibat dalam kegiatan ini. Dengan latar belakang seperti itu, maka di Pati dari dahulu sampai sekarang berkembang berbagai tradisi mulai dari zaman pra sejarah, Hindu-Budha hingga Islam. Tradisi-tradisi itu hingga sekarang masih tetap dipertahankan dan dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi zaman yang berkembang. Contoh tradisi yang masih berkembang hingga sekarang adalah tradisi sedekah bumi.
Di Kabupaten Rembang terdapat beberapa tradisi lokal misalnya masyarakat yang tinggal di pesisir pantai menyelenggarakan upacara sedekah laut, masyarakat setempat lebih mengenal atau menamakannya sebagai tradisi lomban. Tradisi ini terdapat di Tasik Agung dan dilaksanakan pada saat Hari Raya Idul Fitri memasuki hari ketujuh atau masayarakat setempat menyebut Hari Raya Ketupat. Sedangkan masyarakat yang tinggal di pedalaman memiliki tradisi lokal yang dikenal dengan sebutan Tradisi Sedekah Bumi. 
Di Dusun Kedungwatu terdapat tradisi lokal, masyarakat menyebut sebagai upacara khormat bumi, tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat setiap tahun dan waktu pelaksanakannya jatuh selalu pada bulat Apit atau Dzulkaidah. Tradisi lokal masyarakat DesaKedungwatu ini dimulai dengan adanya legenda Mbah Sangga Buwana di Dusun Kedungwatu. Dalam legenda itu dikisahkan, asal usul nama Dusun Kedungwatu, dan tradisi lokal ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi penduduk Dusun Kedungwatu.

 PROSESI UPACARA SEDEKAH BUMI
  diskripsi Dusun Kedungwatu
Dusun Kedungwatu memiliki luas lahankuran lebih 135 ha, terdiri dari 154 KK, termasuk salah satu dusun di Desa Kedungasem Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang.  Berbagai tradisi lokal ini dapat dikaji dan direkonstruksi sebagai bahan pembelajaran bagi generasi penerus.
. Tradisi khormat bumi sudah berlangsung lama, dari generasi ke generasi berikutnya, ada yang tetap namun ada yang berubah, perubahan ini tentu disesuaikan dengan kondisi zaman yang berubah. Tradisi khormat bumi merupakan peninggalan masyarakat pra sejarah, sehingga ritual yang dilaksanakan juga sesuai kepercayaan masyarakat pada saat itu yang memuja roh nenek moyang. Ketika masyarakat secara mayoritas menganut agama Islam, maka tradisi sedekah bumi tetap dilestarikan, perubahan terjadi pada doa yang disampaikan, bukan lagi ditujukan kepada nenek moyang melainkan doa ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT . Perubahan terjadi juga pada dimasukkannya aspek hiburan, sehingga rangkaian acara sedekah bumi meliputi selamatan di punden Mbah Sangga Buwana,dan pertunjukan ketoprak dan pengajian umum di balai desa.
Inti upacara khormat bumi adalah kegiatan selamatan dengan membawa berbagai macam hasil pertanian yang berupa makanan di nampan atau baki, dihadapi secara bersama-sama, setelah doa dibacakan selesai, maka nasi dan buah-buahan itu dimakan secara bersama-sama. Doa yang dibaca adalah permohonan kepada Tuhan agar warga desa mendapat keselamatan dijauhkan dari segala bencana baik bencana alam yang berupa angin lisus, banjir, tanah losor maupun bencana penyakit baik bagi manusia, hewan peliharaan muapun bagi tananam. Doa itu juga meminta agar warga desa diberkai rizki yang melimpah, bagi petani tanaman yang dihasilkan melimpah, bagi peternak hewan peliharaan gemuk-gemuk dan beranak banyak, bagi pedagang ketika berjaulan dagangan laris mendapat keuntungan yang banyak begi para karyawan mendapatkan gaji yang banyak hingga mendapatkan kesejahteraan. 
 Sebelum membaca doa, modin memberi nasehat kepada warga tentang inti acara sedekah bumi, yaitu memohon keselamatan dan keberkahan untuk seluruh warga desa, dengan memberi sodaqoh berupa makanan atau hasil bumi, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa akan menjadikan desa ini menjadi desa baldatun toyibatun warabun ghofur atau gemah ripah loh jinawi maksudnya adalah desa yang tenteram damai dan sejahtera. Selesai pembacaan doa,  dilanjutkan dengan acara makan nasi ambengan dan ada sebagian yang langsung membawa pulang. 
Agenda rapat adalah perencanaan dan evaluasi pelaksanaan sedekah bumi, laporan pertanggungjawaban keuangan dan pembubaran panitia. Dalam rapat tidak banyak pertanyaan yang muncul, sebab pelaksanaan sedekah bumi berjalan sesuai dengan rencana yang disusun. Apabila terjadi kekurangan di sana-sini, masih dipandang lumrah, dan hal ini menjadi catatan bagi pelaksanaan sedekah bumi di tahun berikutnya. Pada dasarnya mereka sepakat, bahwa pelaksanaan sedekah bumi dikatakan sukses. Baromeer ini dapat dilihat dari saldo keuangan terakhir tidak minus, atau sesuai dengan peruntukannya. Keamanan terkendali, selama pelaksanaan sedekah bumi terutama hiburan ketoprak tidak ada gangguan, suasana tertib tidak terjadi perkelahaian, lancar dan aman. Para pemuka agama Islam juga dapat menerima acara sedekah bumi. Pengajian dipandang sebagai sarana dakwah bagi masyarakat. Rakyat pada umumnya juga senang, sehingga mereka berpartisipasi dalam kegiatan sedekah bumi terutama dengan mengeluarkan  ambengan sebagai sodaqoh atau rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmadNYA.Bahkan warga rela mengeluarkan dana yang besar untuk sedekah bumi dengan jalan Panitia menarik Iuran Tiap KK dan Kepemilikan luas Tanah sebagai dasar penarikan dana sedekah bumi.
Unsur-unsur paedagogis upacara khormat bumi yang dilaksanakan masyarakat Dusun Kedungwatu dapat ditemukan pada tahapan kegiatan sebagai berikut :
Nilai-nilai paedagogis yang tampak dalam kegiatan persiapan upacara khormat bumi adalah pertama, demi keberhasilan suatu acara dan sekaligus tercapainya tujuan dalam setiap kegiatan perlu adanya persiapan yang matang. Planing atau rencana merupakan satu tahapan kegiatan yang sangat penting yang harus dibahas secara mendalam. Tiada keberhasilan tanpa adanya perencanaan yang matang. Kedua, dalam rapat diputuskan pembentukan panitia yang melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai dari unsur formal, yakni perangkat desa, lembaga desa, RT, RW sampai dengan tokoh-tokoh masyarakat. Suatu kegiatan akan berhasil apabila melibatkan berbagai pihak, dan semua pihak yang terlibat akan merasakan keberhasilan itu. Oleh karena itu prinsip partisipasi aktif dengan mengakomodasi segala kepentingan menjadi unsur paedagogis yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Prosesi upacara khormat bumi  diawali hajatan yang berupa nasi beserta dengan lauk pauknya ataupun buah-buahan yang umumnya berupa pisang. Hajatan yang diikuti oleh warga di setiap dusun masing-masing,  Hajatan diawali dengan pembukaan salam, dilanjutkan dengan nasehat kepada seluruh warga yang hadir, tentang makna upacara khormat bumi. Makna khormat bumi adalah tanda syukur kepada Tuhan Penguasa semesta alam, agar di waktu mendatang seluruh warga desa mendapat karunia dari Tuhan berupa rezeki yang melimpah dan keselamatan. Setelah nasehat diberikan beberapa saat, pemimpin hajatan mengajak para hadirin yang hadir untuk bersama-sama mengiirim doa kepada seluruh arwah lelulur khususnya yang menjadi akal bakal berdirnya dusun. Misalnya di Dusun Kedungwatu dengan menyebut Mbah Sangga Buwana. Setelah tahlil selesai, doa dibaca oleh pemimpin upacara khormat bumi. Inti doa adalah mengirim salam kepada Nabi Muhammad SAW bersama keluarga dan sahabatnya, memohon ampunan dosa para leluhur, dan memohon agar seluruh warga desa diberi anugrah kenikmatan berupa desa yang tentram dan diberkati berupa rezeki yang melimpah. Kegiatan hajatan ditutup dengan salam, kemudian  warga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa satu takir nasi.
  Do’a berisi permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar seluruh warga  dilimpahkan rizkinya dan diberi keselamatan.
Prosesi upacara khormat bumi yang dilaksanakan  di punden Mbah Sangga Buwana memiliki unsur-unsur paedagogis yang perlu menjadi teladan bagi generasi penerus. Pertama, pembacaan do’a. Do’a yang dibaca oleh pemimpin upacara menunjukkan bahwa sebagai manusia perlu menyandarkan kehidupannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia menunjukkan sikap pasrah di hadapan Tuhan. Manusia tidak memiliki kekuatan untuk menentukan nasibnya, hidup dan mati, kaya dan miskin, rezeki dan bencana, semua itu merupakan kuasa Tuhan. Kedua, disiplin. Sikap disiplin ini ditunjukkan oleh warga  ketika hari yang ditentukan untuk mengadakan upacara khormat bumi harus dilaksanakan. Kegiatan mulai membuat besekan dan hadir dalam upacara khormat bumi tepat pada saat yang ditentukan merupakan kedisiplinan yang patut dijadikan teladan bagi generasi penerus. Ketiga, semangat berkorban atau shodaqoh dengan mengeluarkan sebagian rezeki yang dimilikinya berupa makanan ataupun buah-buahan merupakan sikap manusia yang mengharapkan balasan yang banyak dari Tuhan dengan jalan mengeluarkan sebagian harta bendanya diberikan pada orang lain. Perilaku memberi derma kepada orang lain merupakan sikap terpuji dan hal ini dapat menumbuhkan sikap saling menyayangi dan tumbuh rasa kesetiakawan. Keempat, kegiatan makan bersama setelah upacara selesai, merupakan sikap guyup atau rukun. Makan bersama-sama antar warga masyarakat dalam upacara khormat bumi menunjukkan adanya ikatan batin yang kuat. Kelima, sebagai pemimpin upacara ditunjukan melalui jabatan dalam pemerintahan dan kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin upacara keagamaan. Hal ini memberi kesadaran bagi masyarakat bahwa pemimpin itu harus memiliki kelebihan, seorang pemimpin agama juga harus menguasa ilmu agama. Termasuk ketika memimpin upacara khormat bumi. Agar kegiatan ini tidak bertentangan dengan aqidah agama, do’a dipanjatkan dan ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bukan kepada roh nenek moyang. Sebaliknya roh nenek moyang dido’akan agar diampuni segala dosaya dan dimasukkan ke dalam surga. 
Unsur paedagogis dalam kegiatan penutupan upacara khormat bumi adalah pertama, dalam setiap kegiatan perlu adanya evaluasi. Kegiatan evaluasi perlu diadakan, sebab kegiatan ini untuk mengetahui semua kekurangan dan kelebihan dari kegiatan. Kegiatan evaluasi memberi masukan terhadap rencana kegiatan tahun berikutnya. Kedua, panitia yang tidak menerima bayaran dalam kegiatan itu menunjukkan semangat rela berkorban, bekerja tanpa pamrih maksudnya tidak mengharapkan upah atas pekerjaan yang dikerjakannya. Ikhlas atas pekerjaan menjadi panitia upacara khormat bumi, merupakan salah satu ciri jiwa masyarakat pedesaan yang hingga sekarang masih tetap dipertahankan. Ketiga, keakraban yang terjalin menjadi semangat panitia untuk melaksanakan kegiatan upacara khormat bumi. Kerukunan menjadi modal bagi suksesnya kegiatan upacara khormat bumi. 
 tradisi upacara khormat bumi dilaksanakan pada bulan Apit adalah masyarakat Jawa meyakini pada bulan itu merupakan bulan yang kurang baik, sehingga pada bulan Apit masyarakat tidak berani menyelenggarakan upacara khitanan ataupun perkawinan. Lebih baik di luar bulan itu. Oleh karena itu dengan dilaksanakan upacara khormat bumi, kegiatan ini dipandang sebagai salah satu cara meruwat atau berdo’a kepada penguasa alam agar dihindarkan dari seluruh malapetaka, dan semoga kesejahteraan senantiasa akan tercurah pada seluruh warga desa.
Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara khormat bumi sangat besar, sehinggaDusun Kedungwatu sepakat bahwa generasi muda, khususnya para siswa perlu dikenalkan secara langsung berbagai tradisi yang berkembang dalam masyarakat, misalnya tradisi upacara khormat bumi yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Kedungwatu. 
Dengan melihat prosesi khormat bumi di Dusun Kedungwatu,  akan melihat tradisi khormat bumi dari dua aspek, yaitu pertama, tradisi khormat bumi yang dilaksanakan setiap tahun merupakan usaha  masyarakat Dusun Kedungwatu untuk menghormati tokoh yang berjasa sebagai pendiri desa, kedua, tradisi khormat bumi sebagai sarana mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang memberikan limpahan rahmat berupa rezeki yang melimpah dan lindunganNYA yang berupa keselamatan dan ketentraman hidup bagi warga desa.
Jika ditinjau dari antropologi, upacara khormat bumi masyarakat Dusun Kedungwatu menunjukkan adanya keinginan masyarakat untuk membuat citra positif terhadap tokoh pendiri desa sebagai tokoh kharismatik dan sakti. Pencitraan itu merupakan tindakan wajar agar masyarakat desa itu tetap menghormati dan mengingat jasa-jasa, serta mentauladani sikap dan tindakan dari pendiri Dusun Kedungwatu. Tindakan yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Kedungwatu dalam perspektif teori antropologi menunjukkan bahwa masyarakat Desa Sukoharjo merupakan masyarakat petani (Koentjaraningrat, 1990 : 140-141). Pada dasarnya budaya masyarakat petani merupakan budaya folk, dan budaya ini berbeda dengan budaya masyarakat kota yang dipandang lebih besar. Oleh karena itu Robert Redfiled (dalam Kontjaraningrat, 1990 : 142-143) cenderung menyebut kebudayaan masyarakat desa sebagai tradisi kecil (little tradition). sedangkan masyarakat perkotaan yang berada di dekat pusat kerajaan disebut kebudayaan besar (great tradition).
            Kemampuan memahami, menghormati dan mengembangkan suatu tradisi yang berkembang dalam masyarakat akan muncul, ketika siswa mempelajari, mengkaji dan menganalisis suatu tradisi yang berkembang dalam masyarakatnya. Ketika siswa berinteraksi dengan tradisi lokal dan ada bimbingan, arahan dari guru atau tokoh masyarakat, maka akan tumbub empati terhadap nilai-nilai yang sudah ada. Sebagai pribadi terdidik dan terpelajar maka tradisi itu akan dikembangkan sesuai dengan nilai-nilai yang berkembang pada zaman sekarang.
       Pelaksanaan upacara khormat bumi yang diselenggarakan oleh  masyarakat Dusun Kedungwatu Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang merupakan usaha masyarakat setempat untuk menjaga keseimbangan alam, manusia menjaga hubungan dengan penguasa alam (hablum minawwah) dan menjaga hubungan dengan sesama manusia  (hablum minannas). Hal ini dipertegas Robertson Smith (dalam Koentjaraningrat : 67) bahwa upacara religi atau agama, yang biasanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat pemeluk religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat.  Pada zaman dahulu, upacara khormat bumi merupakan sarana pemujaan kepada nenek moyang dan sekaligus pemujaan kepada Dewi Sri (Dewa Kesuburan menurut mitologi agama Hindu) agar masyarakat dijaga dari hal-hal yang tidak diinginkan dan diberi kesuburan, sehingga akan tercipta masyarakat toto tentrem gemah ripah loh jinawi. Kini, hakekat upacara khormat bumi adalah usaha bersama masyarakat memohon kepada Tuhan Allah SWT agar selalu diberi keselamatan dan dijauhkan dari bencana serta selalu diberi kesejahteraan atau akan tercipta baldatun toyyibatun warabbun ghofur. Oleh karena itu, sebagian masyarakat masih ada yang memiliki kepercayaan bahwa nasi hajatan memiliki berkah, sehingga ketika  nasi hajatan dibawa pulang akan digunakan sebagai pupuk tanaman dengan harapan tanaman tumbuh subur dan menghasilkan panenan yang melimpah.
Generasi penerus perlu memiliki sikap nguri-nguri terhadap kesenian tradisional. Siraman rohani dalam pengajian umum dalam rangka upacara khormat bumi dipandang sebagai sarana untuk memperdalam wawasan keagamaan. Salah persepsi terhadap upacara khormat bumi sedikit demi sedikit mulai terkikis, sehingga diharapkan pelaksanaan upacara khormat bumi sejalan dengan ajaran agama Islam. Secara ekonomis, masyarakat tidak diuntungkan dari pelaksanaan upacara khormat bumi. 
Usaha masyarakat mempertahankan tradisi upacara khormat bumi yang berasal dari tradisi pra aksara dengan memasukkan unsur ajaran agama Islam, menunjukkan telah terjadi sinkritisme antara tradisi pra sejarah dengan tradisi Islam. Pengajian umum, ketoprak dan wayang kulit menunjukkan tradisi pra Islam dan tradisi Islam.
.       Dalam pelaksanaan upacara khormat bumi, ada beberapa nilai-nilai yang dapat direkomendasikan sebagai nilai-nilai yang perlu diwariskan kepada generasi penerus, yaitu (1) sikap religius masyarakat, yang tercermin sikap masyarakat yang selalu ingat kepada Allah SWT, sebab alam dan seluruh isinya adalah ciptaanNYA. Manusia diciptakan oleh Allah SWT, kecuali hanya untuk beribadak kepadaNYA. Semakin manusia itu dekat kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan menurunkan karunia dan rahmatNYa yang dapat berupa kesejahteraan dan kedamaian. (2) selalu ingat kepada jasa-jasa leluhur atau nenek moyang yang telah mendirikan desa. Sikap ini perlu ditanamkan kepada generasi penerus, sehingga harapan kita, generasi penerus akan memiliki sikap mikul duwur mendem jero. Disamping itu ada beberapa sikap yang telah diperlihatkan oleh masyarakat  dalam melaksanakan upacara khormat bumi, dan sikap itu harus tertanam dalam hati para muda, yaitu (1) sikap gotong-royong. Dalam melaksanakan hajatan upacara khormat bumi, warga masyarakat saling bahu membahu, bekerja bersama-sama tanpa dibayar. Sikap tanpa pamrih masih tertanam dalam hati masyarakat pedesaan yang masih tetap hidup  bersahaja, (2) sikap hidup rukun saling tolong menolong  yang tercermin dari hidup guyub senantiasa terpelihara dalam kehidupan masyarakat Desa Sukoharjo, (3)  sikap masyarakat yang senantiasa memelihara silaturahmi sesama warga merupakan modal untuk hidup rukun, sebab dengan memelihara tali silaturahmi, akan tercipta hidup yang damai jauh dari rasa saling curiga mencurigai. Dengan demikian materi upacara khormat bumi yang di dalamnya mengandung kearifan lokal merupakan materi yang dapat digunakan sebagai pengayaan pembelajaran sejarah.
            Upacara khormat bumi yang dilaksanakan masyarakat  secara ekonomis tidak memiliki dampak signifikan bagi peningkapan kesejahteraan masyarakat, tetapi sebaliknya justru biaya untuk menyelenggarakan upacara khormat bumi mencapai  puluhan juta rupiah.  Sekalipun demikian  dalam perspektif pendidikan, upacara khormat bumi bermanfaat untuk pengembangan pendidikan, karena dalam ritual tersebut terdapat nilai-nilai paedagogis, baik yang bersifat sosial yaitu sikap gotong royong, sikap sodaqoh, pasrah, maupun sikap hormat kepada leluhur. Penyelenggaraan khormat bumi mengingatkan kepada generasi penerus agar selalu mengingat dan menghormati para leluhurnya.
 Bulan Apit dipilih memiliki pertimbangan, bahwa pada bulan itu dipercaya oleh masyarakat sebagai bulan yang kurang baik, akan muncul berbagai bencana, rezeki kurang lancar. Oleh karena itu pada saat bulan Apit inilah saat yang tepat untuk melaksanakan upacara khormat bumi dengan memanjatkan do’a kepada Allah SWT agar seluruh warga desa selalu diberi rahmatNYA yang berupa hidup damai tenteram dan sejahtera.
Tempat penyelenggaraan upacara khormat bumi dilaksankan di Punden Mbah Sangga Buwana, dengan pertimbangan bahwa Mbah Sangga Buwana merupakan orang yang berjasa dalam berdirinya Dusun . Legenda Dusun  berasal dari Mbah Sangga Buwanah. Oleh karena itu sebagai salah satu usaha untuk menghormati dan mengenang jasa Mbah Gamirah upacara khormat bumi selalu dilaksanakan di Punden Mbah Sangga Buwana.
Pemimpin upacara khormat bumi adalah  Modin yang sebelumnya di buka oleh Kades/Kadus. Modin ini ditetapkan sebagai pemimpin upacara khormat bumi berdasarkan kepercayaan, bahwa modin merupakan orang yang mengerti urusan agama, dan diberi wewenang untuk memimpin kegiatan keagamaan mulai dari mengurusi pernikahan, mengurusi orang meninggal dunia dan memimpin upacara kenduri atau hajatan.
Jenis kesenian untuk melaksanakan upacara khormat bumi di Punden Mbah Gamirah adalah wayang kulit. Wayang kulit merupakan jenis kesenian yang sudah ada pada zaman pra sejarah. Melalui pertunjukan wayang kulit dapat digunakan sebagai sarana komunikasi antara orang yang telah meninggal dunia dengan orang yang masih hidup. Dalam komunikasi itu orang yang masih hidup memohon kepada orang yang meninggal dunia agar menjaga keselamatan dan kedamaian desa. Dalam kepercayaan pra sejarah orang yang mati dapat dimintai pertolongan oleh yang masih hidup.
Sesajen yang digunakan sebagai alat upacara merupakan tradisi yang sudah berlangsung turun temurun. Sesajen merupakan salah satu alat upacara yang digunakan sebagai sarana untuk berhubungan dengan orang-orang yang telah meninggal dunia atau roh para leluhur.
Keberadaan legenda Mbah Sangga Buwana merupakan suatu usaha masyarakat setempat untuk menggali jati dirinya. Legenda memang sengaja diciptakan oleh manusia dalam rangka untuk mencari identitas suatu komunitas. Oleh karena itu hampir di semua desa di Jawa memiliki legenda yang berkaitan dengan berdirinya desa itu.
     Nilai-nilai Paedagogis Upacara Khormat Bumi Bagi Generasi Penerus
Upacara khormat bumi yang dilaksanakan masyarakat  mengandung nilai-nilai paedagogis bagi generasi penerus perlu diteladani, dan dikembangkan pada saat ini. Sebagai generasi penerus, perlu dibekali dengan sikap keteladanan yang telah dicontohkan generasi pendahulu. Dengan demikian, ketika masyarakat melaksanakan upacara Khormat Bumi, generasi penerus diajak serta untuk mengamati, menghayati dan diharapkan akan memiliki beberapa sikap sebagai berikut :
a.       Gotong royong. Sikap gotong royong ditunjukkan oleh perangkat desa dan warga desa dalam mempersiapkan pelaksanaan upacara khormat bumi. Selama bekerja, mereka tidak dibayar, tetapi tetap menunjukkan sikap ihlas tidak jengkel ataupun marah. Mereka menunjukkan sikap rela tanpa pamrih dan memancarkan raut kegembiraan dalam mempersipakan upacara khormat bumi.
b.      Demokratis. Sikap musyawarah ditunjukkan baik kepala desa beserta dengan perangkat desa, tokoh masyarakat maupun warga masyarakat dalam mempersiapkan pelaksanaan upacara khormat bumi. Semua acara disusun berdasar azas mufakat, baik ketika menentukan waktu, tokoh yang perlu diundang, hiburan apa yang perlu bahkan sampai kepada mubaligh yang mengisi pengajian.
c.       Ketuhanan. Sikap pasrah kepada penguasa alam dan hormat kepada leluhur merupakan salah satu karakter masyarakat pedesaan yang mayoritas hidup sebagai petani, sikap itu bahkan sudah melekat dan menjadi budaya Jawa. Kearifan budaya Jawa melalui ungkapan, pertama, eling sangkan paraning dumadi, maksudnya adalah kesadaran orang Jawa yang selalu berhati-hati dalam bertindak dan bertutur sapa dan selalu ingat terhadap asal-usul manusia yang berasal dari tanah dan mengingat kemana atau tujuan akhir hidup manusia, yaitu harus mempertanggungjawabkan segala amal ibadahnya di hadapan Allah SWT.  Kedua, mikul dhuwur mendem jero, para lelulur yang sudah mendarmabaktikan pada generasi penerus berupa perjuangan membuka hutan untuk dijadikan pemukiman dan kini sudah menjadi desa, maka wajar apabila generasi sekarang memiliki kesadaran sejarah menghormati para pejuang desa dengan memohonkan ampunan kepada Tuhan atas segala dosa dan kesalahan dan semoga mereka semua mendapatkan balasan sesuai dengan darmabaktinya. Ketiga, ngunduh wohing pakerti, masyarakat menyadari apabila berbuat baik tentu mereka sendiri yang akan mengambil hikmahnya, begitu pula apabila berbuat tidak baik mereka sendiri pula yang akan menanggung akibatnya. Keempat, rawe-rawe rantas malang-malang putung, dalam mendirikan desa, tentu para leluhur menemui banyak hambatan dan rintangan, dengan semangat pantang menyerah, maka para leluhur berhasil mewujudkan impiannya menciptakan suatu pemukiman yang aman, tenteram dan sejahtera. Kelima, rukun agawe santoso, untuk mencapai tujuan hidup bersama, maka diperlukan kerukunan, persatuan dan kesatuan sehingga akan tercipta desa yang sejahtera, bermanfaat sebagai sarana untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisi yang ada dalam masyarakat, di samping itu juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendorong generasi penerus agar tetap mengambil nilai-nilai yang ada di dalamnya. Hal ini ditunjukkan dengan rumusan masalah sebagai berikut  : (1) Prosesi upacara khormat bumi yang dilaksanakan masyarakat    bertempat di punden  merupakan tradisi yang berlangsung turun temurun. Tujuan diselengarakan upacara khormat bumi adalah agar Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT, selalu memberi kemakmuran, kesejahteraan, ketetraman dan dijauhkan dari segala malapetaka, (2) Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara khormat bumi dapat dijadikan sebagai nilai-nilai yang perlu dimiliki oleh generasi penerus, yaitu sikap gotong royong, demokratis, kearifan budaya Jawa yang terdiri eling sangkan paraning dumadi, mikul dhuwur mendem jero, rukun agawe santoso.
Acara hiburan Kethopak dalam pesta sedekah bumi
INSYAALLAH BERSAMBUNG......Ke legegenda Dusun Kedungwatu

DAFTAR BACAAN

Ahmad Mansur Suryanegara. 1995. Menemukan Sejarah. Bandung : Mizan.
Gotttschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta : UI Press.
Geertz, Clifford. 1989. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta : Pustaka Jaya.
Hadari Nawawi. 1990. Metode Penelitian Bidang Sosial. Gajah Mada University Press.
Hariyono. 1995. Mempelajari Sejarah. Jakarta : PT Dunia Pustaka Jaya.
Haviland William A. 1999. Antropologi Jilid 2. Jakarta : PT Erlangga.
Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi. Jakarta : Erlangga.
James Dananjaya. 1991. Foklor, Indonesia, Ilmu Gaib, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta : Grafiti.
Koentjaraningrat. 1981. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta : UI Press.
-------. 1965. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta : Djambatan.
-------. 1999. Pengantar Antropologi. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Kuntowijoyo.1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya.
Moleong, L.J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Muhammad Surya. 2003. Kapita Selekta Kependidikan. Jakarta : Universitas Terbuka.
Muhammad Taupan, 2007. Sejarah. Bandung : CV. Yrama Widya.
Nugroho Notosusanto. 1971. Norma-norma Dasar Penelitian dan Penulisan Sejarah. Jakarta : Pusat Sejarah ABRI.
Nursid Sumaatmadja. 2003. Kapita Selekta IPS. Jakarta L : Universitas Terbuka.
Roeslan Abdulgani. 1963. Penggunaan Ilmu Sejarah. Bandung : Prapantja.
Sartono Kartodirdjo. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta : Gramedia.
Slamet, DS. 1984. Upacara Tradisional Dalam Kaitannya Peristiwa Kepercayaan. Depdikbud.
Sugeng Suryanto, dkk. 1987. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Jawa Tengah. Semarang.: Depdikbud.

0 komentar:

Go to Top
Copyright © 2013 besudm.blogspot.com
Template Created by :